Kedatangan IMF Ditolak, Hari Ini ke Depkeu, Besok ke Istana

23 01 2007

Jakarta, Padek—Hari ini Managing Director International Monetary Fund (IMF) Rodrigo de Rato tiba di Indonesia. Kedatangan pejabat lembaga keuangan dunia itu akan ditolak ramai-ramai oleh sejumlah LSM. IMF dituntut bertanggung jawab atas kasus BLBI dan obligasi rekapitalisasi perbankan.

Sesuai jadwal, hari ini Rodrigo akan bertemu dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan bertemu dengan kalangan bisnis serta akademisi. Besok, giliran ke Istana Negara menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah LSM hari ini dan besok akan menggelar aksi untuk menolak kedatangan Rodrigo de Rato itu. ” Kedatangan IMF patut ditolak untuk menyelamatkan Indonesia dari cengkeraman IMF untuk kedua kali, ” kata Koordinator Koalisi Antiutang (KAU) Kusfiardi saat Konferensi Pers di kantor KAU, Mampang, kemarin.

Kunjungan IMF kali ini, kata Ardi—sapaan Kusfiardi— ini patut diwaspadai sebagai upaya untuk mengamankan agenda mereka di Indonesia. Rodrigo Rato akan memanfaatkan Indonesia untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi oleh IMF. ” Upaya tersebut merupakan bentuk intervensi lain yang dilakukan IMF terhadap Indonesia setelah Letter of Intent (LoI) dan Post Program Monitoring (PPM), ” kata alumni Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) itu. Pemerintah, kata Ardi seharusnya memanfaatkan kunjungan Rodrigo untuk menyatakan keluar dari keanggotaan IMF dan mulai memikirkan upaya untuk membubarkan lembaga ini.

Selain itu, SBY juga harus meminta pertanggungjawaban atas kasus BLBI dan obligasi rekapitalisasi perbankan yang samapi sekarang belum tuntas. BLBI dan obligasi rekap merupakan hasil desakan IMF yang dimulai dari restrukturisasi 16 bank pada 1997. Kusfiardi menambahkan, saat ini IMF dihadapkan persoalan defisit atau merugi. Masalah yang dihadapi oleh IMF adalah memburuknya potensi pendapatan akibat percepatan pelunasan utang yang telah dilakukan beberapa negara seperti Indonesia, Serbia dan Uruguay. Kemudian ditambah lagi dengan proyeksi IMF yang sudah memprediksikan kerugian operasional sebesar USD 87,5 juta dan USD 280 juta pada 2009. Selain itu, IMF juga akan mencatat defisit sebesar SDR 70 juta (USD105 juta) di tahun fiskal 2007 yang akan berakhir pada 30 April 2007.

Defisit tersebut telah melebar dari proyeksi awal, yakni SDR 60 juta (USD 90 juta). Peluang lain yang bisa dilakukan IMF mengatasi defisit adalah menjual cadangan emas atau memanfaatkan tingkat suku bunga global yang tinggi. ” Kemungkinannya IMF menemui SBY untuk memastikan suku bungan tidak berubah drastis, ” katanya. Kepentingan IMF lain adalah memastikan bahwa asumsi-asumsi APBN 2007 bisa direalisasikan. Juga mendorong pengesahan RUU penanaman Modal bisa dipercepat.

Dengan UU tersebut, IMF bisa membeli surat berharga di Indonesia secara langsung dengan pajak yang ringan. Secara terpisah Menko Perekonomian Boediono menambahkan kedatangan Rodrigo Rato hanya bersifat silaturahmi. Ekonom dari Universitas Gadjah Mada itu mengatakan tak ada agenda khusus dari kedatangan Direktur Pelaksana IMF itu. Apalagi saat ini Indonesia sudah melunasi semua utang dan tidak lagi dalam masa pemandoran oleh lembaga “ Konsensus Washington ” tersebut. ” Itu hanya mampir saja. Tidak ada yang substansial. Kita kan anggota biasa. Beliau akan kunjungi beberapa negara, termasuk kita, ya kita terima, ” kata Boediono.

Boediono menambahkan, Indonesia hanya akan mendengar pandangan Rato tentang ekonomi Indonesia. ” Kita juga akan cerita apa yang dilakukan setelah tidak lagi berada di bawah pengawasan IMF, ” ujarnya. Ditanya apakah pemerintah akan mempertimbangkan pandangan IMF, Boediono hanya menjawab diplomatis. ” Ya kita dengar dong kalau itu baik, ” ujar mantan menteri keuangan era Presiden Megawati tersebut. Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal mengatakan dalam pertemuan nanti, SBY akan menegaskan kepada IMF bahwa utang-utang Indonesi akepada IMF sudah lunas, ” kata Dino. SBY merasa perlu menyampaikan hal tersebut agar IMF memahami posisi Indonesia saat ini.

Yakni bukan lagi sebagai negara pengutang di IMF. Pertemuan nanti juga akan mengevaluasi hal-hal yang terjadi saat Indonesia menjadi pasien IMF. ” Misalnya dulu kira-kira salahnya apa, sehingga bisa dikoreksi, ” kata Dino. Tidak ada agenda pembahasan mengenai rencana utang atau tawaran utang IMF ke Indonesia. Pemerintah justru sedang berusaha untuk menyelesaikan utang-utang luar negeri yang melilit selama ini. Rodrigo Rato juga dijadwalkan akan bertemu dengan kalangan bisnis di Indonesia.

Padang Exspres, 23 Januar1 2007





Belum Datang, IMF Panen Kecaman

23 01 2007

detikcom Jakarta – Direktur Pelaksana IMF Rodrigo Rato berencana mengunjungi Indonesia pada 23-24 Januari. Belum juga Rato tiba, kecaman demi kecaman terus dilontarkan kepada IMF. Kecaman itu antara lain datang dari sejumlah LSM seperti Koalisi Anti Utang (KAU), Gerakan Aliansi Rakyat untuk Penghapusan Utang (Garpu) dan INFID.

KAU sebelumnya meminta agar pemerintah mewaspadai kedatangan IMF ke Indonesia. KAU menilai banyak agenda tersembunyi di balik kedatangan Rato ke Indonesia. Sedangkan GARPU menilai IMF telah memberikan utang kepada negara-negara miskin sejak tahun 1960-an yang berdampak pada tingginya utang Indonesia.

Dan melihat tak kunjung selesainya utang Indonesia, GARPU mendesak dibentuknya Lembaga Kebangkrutan Internasional (LKI) di tingkat global di bawah otoritas dan pengawasan PBB. LKI ini pertama kali disponsori oleh koalisi Jubilee 2000 dan Kanada. Sementara INFID juga mempertanyakan kepentingan IMF datang ke Indonesia.

INFID menilai keberadaan IMF di Indonesia bukan memberikan manfaat namun kehancuran bagi Indonesia. “IMF memainkan peran destruktifnya bagi Indonesia yang sudah dimulai sejak pertengahan 1980-an ketika mendorong pemerintah Indonesia menerima program penyesuaian struktural,” ujar INFID dalam pernyataannya. INFID meminta agar berbagai pengalaman buruk bekerjasama dengan IMF dijadikan sebagai worst practices bagi negara-negara lain yang masih dalam tekanan IMF. “Pemerintah RI sebaiknya tidak melakukan tindakan sia-sia dan berbahaya jika mencoba-coba lagi menjalin kerjasama dengan IMF,” tegas INFID.

INFID juga meminta agar para pejabat, politisi, kelompok bisnis dan akademisi tidak mengambil kesempatan untuk diri sendiri dan kelompoknya dengan menyediakan diri mereka demi memuluskan kembalinya IMF ke Indonesia. Bagaimana tanggapan Rato atas berbagai kritikan itu? Yang pasti, hingga kini agenda Rato di Indonesia belum jelas. Kabarnya, Rato baru akan tiba di Indonesia malam ini sekitar pukul 20.00 WIB. Rato baru dijadwalkan bertemu dengan Presiden SBY dan tim ekonomi pada Rabu (24/1/2007) di Istana.

Kunjungan Rato merupakan rangkaian acaranya ke Asia setelah sebelumnya mengunjungi Jepang. Rato turut hadir dalam acara peringatan 10 tahun krisis ekonomi Asia yang digelar Bank Sentral Jepang. Setelah mengunjungi Indonesia, Rato dijadwalkan mengunjungi Cina.

Detikcom, 23 Januari 2007





Jangan Terjebak Agenda IMF

23 01 2007

JAKARTA, KOMPAS – Koalisi Anti Utang menolak jika Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) berniat mengintervensi kembali kebijakan fiskal dan moneter Indonesia. “Kami mewaspadai agenda terselubung kedatangan Direktur Pelaksana IMF Rodrigo Rato di Indonesia tanggal 23-24 Januari 2007.

Indonesia jangan terjebak lagi oleh agenda IMF,” kata Koordinator Koalisi Anti Utang (KAU) Kusfiardi, Senin (22/1). Menurut Kusfiardi, untuk menentang kedatangan Rodrigo Rato, Selasa ini digelar unjuk rasa di depan Bank Indonesia oleh jaringan KAU, di antaranya Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), dan perwakilan Serikat Pekerja PT PLN. “Pekan lalu, siaran pers di situs IMF menyebutkan, IMF berharap tingginya tingkat suku bunga global menutup defisit IMF sebesar 105 juta dollar AS di tahun 2007,” ujar Kusfiardi. Dia khawatir Rodrigo Rato memengaruhi Pemerintah Indonesia agar menjaga suku bunga pada tingkat tertentu.

Padahal, harapan IMF terhadap tetap tingginya suku bunga global menyebabkan tertahannya suku bunga kredit perbankan di Indonesia. “Kondisi demikian mematikan peran intermediasi pada institusi keuangan, termasuk perbankan. Sektor riil pun kemudian mati,” ujar Kusfiardi.

Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) Henry Saragih mencurigai agenda IMF hanya akan mendorong Indonesia kembali ke arah spekulasi sektor finansial. “Tak pelak lagi, sektor riil terancam tak terurus. Kami menduga agenda IMF juga tidak akan menggerakkan sektor pertanian, industri kecil dan menengah, yang selama ini jadi tulang punggung ekonomi riil Indonesia,” kata Henry.

Urusan Indonesia dengan IMF sebenarnya selesai dengan pengembalian dana pinjaman siaga pada Oktober 2006. Pengembalian mencapai 3,1 miliar dollar AS ditambah bunga satu kali pembayaran sehingga totalnya 3,2 miliar dollar AS.

Kompas, 23 Januari 2007





Kedatangan Direktur IMF Ditentang

23 01 2007

JAKARTA (SINDO) – Koalisi Anti Utang (KAU) menentang kedatangan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/ IMF) Rodrigo Rato ke Indonesia yang dijadwalkan berlangsung Selasa–Rabu (23–24/1) ini.

KAU menilai kedatangan Rato merupakan upaya intervensi dan memanfaatkan Indonesia untuk mengatasi masalah yang dihadapi IMF. ” Mereka (IMF) kan berpotensi mengalami kerugian. Saya pikir, kedatangan dia ke Indonesia untuk membangun skenario kontrol baru atas Indonesia dengan menggandeng kalangan pengusaha dan para akademisi, ” ujar Koordinator Nasional KAU Kusfiardi di Jakarta,kemarin.

Dia mengatakan, Pemerintah Indonesia seharusnya memanfaatkan kunjungan IMF untuk menghapuskan utang Indonesia dan segala produk kebijakan yang lahir dari hasil intervensi melalui Letter of Intent (LoI) dan Post Program Monitoring (PPM). ” Bukan malah sebaliknya, membiarkan Indonesia dimanfaatkan oleh IMF untuk menyelesaikan permasalahan yang tengah dihadapinya, ” kata Kusfiardi.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Boediono mengatakan, kedatangan Rodrigo sekedar mampir dalam rangka kunjungannya ke sejumlah Negara-negara di kawasan Asia. Menko menyebut, tidak ada agenda khusus yang akan dibicarakan dalam kunjungan tersebut dan pemerintah tidak menyiapkan agenda apa-apa. Seperti diketahui IMF, kini sedang menghadapi masalah terkait memburuknya potensi pendapatan akibat percepatan pelunasan utang yang telah dilakukan beberapa negara. (ant)

SINDO, 23 Januari 2007





Pengunjukrasa Tolak Kedatangan Direktur Pelaksana IMF

23 01 2007

Jakarta (ANTARA News) – Belasan orang yang tergabung dalam Koalisi Anti Utang (KAU) menggelar unjukrasa di luar kantor perwakilan Dana Moneter Internasional (IMF) di kompleks Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, Selasa, berkenaan dengan kedatangan Direktur Pelaksana IMF, Rodrigo de Rato, ke Indonesia. Unjukrasa berawal di sekitar bunderan patung kuda.

Pengunjuk rasa membawa poster-poster yang bertuliskan “Build a new world without IMF”, “lawan penjajahan gaya baru neoliberalisme”, “IMF Out”, dan poster lain yang intinya menolak kedatangan pria asal Spanyol itu dan upaya intervensi IMF atas Indonesia. “Kedatangan de Rato bermotif politik yang akan berdampak pada ekonomi Indonesia di bawah kendali IMF,” kata Juru Bicara aksi KAU, Kusfiardi. Dalam aksinya, KAU sempat menggelar poster di jalur bus Transjakarta selama beberapa menit, namun aksi ini akhirnya dihentikan aparat kepolisian karena menghalangi bus Transjakarta yang akan melintas dan menyebabkan kepadatan arus kendaraan di sekitar BI. Aksi kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju kantor perwakilan IMF di kompleks Gedung BI. Di luar pagar yang terkunci rapat, puluhan aparat kepolisian bersiaga.

Sementara peserta unjukrasa tidak bergeming dari tempatnya berorasi kendati sempat di guyur hujan. Ardi mengungkapkan IMF dengan kondisi masalah keuangan yang saat ini dihadapi, akan mengambil kebijakan yang cenderung menguntungkan lembaga itu sendiri. Pemerintah, lanjutnya, seharusnya menolak kedatangan IMF dan menolak upaya campur tangannya di Indonesia. Sementara itu, terkait pernyataan Menko Perekonomian Boediono bahwa pemerintah tidak akan didikte IMF, Ardi menilai hal itu sekedar ucapan tak berdasar. “Menteri mungkin mengatakan tidak mau di dikte IMF, tetapi bagaimana kalau Presiden SBY yang didikte IMF,” katanya.

Sebelumnya Menko Perekonomian Boediono mengatakan pihaknya akan mendengar semua masukan yang diberikan IMF, namun pemerintah tetap akan bersikap independen dalam pengambilan keputusan. “Pokoknya kebijakan kita sekarang kita tentukan sendiri. Jadi jangan khawatir kalau ada dikte-dikte. Tidak ada. Yang mendikte adalah presiden,” kata Boediono. Menko juga menegaskan dalam pertemuan dengan IMF Selasa malam nanti, pihaknya hanya akan melakukan tukar pikiran mengenai perkembangan dunia, perkembangan ekonomi Indonesia, serta kebijakan-kebijakan baru IMF bagi anggotanya. Dia menegaskan kembali bahwa Indonesia memang saat ini adalah anggota biasa IMF, tapi tidak ada lagi ikatan-ikatan yang mengharuskan Indonesia melakukan seperti yang diinginkan IMF.

Ditanya tentang kemungkinan pembahasan mengenai pinjaman baru, Boediono dengan mantap mengatakan tidak ada agenda tersebut. Aksi KAU akan berlanjut pada Rabu siang (24/1) dengan unjukrasa di di depan Istana Negara. “Kita akan lanjutkan aksi di depan Istana Negara, sebab presiden akan bertemu Rato besok (Rabu, 24/1),” kata Ardy.

ANTARA, 23 Januari 2007