PINJAMAN LUAR NEGERI DARI JEPANG AKAN BERTAMBAH KEPADA INDONESIA

22 05 2008

Departemen Keuangan mulai serius menjajaki sumber pinjaman baru yang ditawarkan pemerintah Jepang dalam bentuk skema Shibosai untuk menyerap utang sebesar Rp 6,51 triliun (Kompas, 22/05/08).

Depkeu menganggap ini menjadi sumber alternatif menarik karena Shibosai ditawarkan dengan suku bunga yang relatif rendah. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto di Jakarta, Rabu (21/5) mengatakan bahwa jumlah pinjaman yang bisa diperoleh sangat tergantung dari nilai proyek yang akan menjadi jaminan. Pada umumnya, nilai transaksi awal dalam penerbitan Shibosai berkisar 500 juta dollar 700 juta dollar AS (setara Rp 4,65 triliun hingga Rp 6,51 triliun pada posisi nilai tukar Rp 9.300 per dollar AS).

Shibosai merupakan surat utang yang diterbitkan dalam mata uang yen dan dilelang di pasar Jepang. Lelang dilakukan dengan menggunakan skema penempatan langsung dan terbatas kepada investor tertentu, bukan melalui penawaran umum.

Syarat utama penerbitan Shibosai adalah adanya proyek yang akan dibiayai oleh dana obligasi itu. Oleh karena itu, sebelum menerbitkan Shibosai, Pemerintah Indonesia harus menentukan terlebih dahulu proyek-proyek yang akan dibiayai dana dari penerbitan surat utang ini.

Menurut Rahmat, jumlah investor yang akan ditawari Shibosai dibatasi maksimal 49 institusi. Penerbitan Shibosai yang dilakukan Pemerintah Indonesia akan dijamin Bank Jepang untuk Kerja Sama Internasional (Japan Bank for International Cooperation/ JBIC). Artinya, JBIC akan menjamin pembayaran kewajiban jika pemerintah gagal bayar. Sebagai gantinya, pemerintah akan membayar ongkos penjaminan kepada JBIC.

Sementara,sebagai investor utama dalam ADB (Asian Bank Development) Jepang akan mengabulkan pinjaman dengan kisaran 800 juta s.d 900 juta USD sebelum akhir tahun ini untuk pinjaman program yang diajukan oleh pemerintah RI.

ADB menjelaskan bahwa dana tersebut digunakan untuk membantu menutup defisit anggaran pemerintah RI dan diberikan dalam bentuk pinjaman reguler dengan basis tingkat suku bunga sama dengan LIBOR.

Bappenas menyatakan baru-baru ini bahwa ADB hanya dapat memenuhi permintaan pinjaman pemerintah sebesar 650 juta USD dari total permintaan 1,1 miliar USD. Lebih jauh lagi Bappenas menyatakan bahwa pinjaman itu diperuntukkan untuk mendanai tiga program:

  1. Development Policy Support Program (DPSP) yang merupakan hasil kerja sama dengan Bank Dunia. Dalam program ini ADB akan mengucurkan pinjaman 200 juta USD. Bila dikabulkan, pinjaman ini merupakan yang keempat kalinya sejak tahun 2005
  2. Local Government Financing and Governance Reform senilai senilai 300 juta USD. Bila terealisasi, ini akan menjadi pinjaman program tahun kedua.
  3. IBFRA (International Boreal Forest Research Association) Reform. Ini akan menjadi yang keduakalinya (Binis Indonesia 22/05/08).


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: