Indonesia Sebaiknya Pilih Kebijakan Jeda Tebang

16 11 2007

Jakarta-RoL–Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan, menyarankan pemerintah Indonesia mengambil kebijakan moratorium logging (jeda tebang) untuk mengatasi kerusakan hutan (deforestasi) yang telah mencapai 2,7 juta hektare per tahun.

“Sewajarnya kebijakan moratorium menjadi inisiatif progresif pemerintah Indonesia daripada harus menjadi “satpam hutan” dengan menerima upah dari pelaku perusak hutan dan lingkungan seperti yang ditawarkan REDD,” kata Direktur Eksekutif Walhi Chalid Muhammad seperti yang dilaporkan Antara dalam diskusi di Jakarta, Jumat.

REDD atau penurunan emisi dari deforestasi di negara-negara berkembang, lanjut Chalid, merupakan mekanisme yang ditawarkan dunia saat ini untuk menangani kerusakan hutan. REDD menawarkan insentif negara-negara utara bagi negara-negara selatan guna mengurangi emisi dari penggundulan hutannya.

Dengan kata lain, kata Chalid, negara-negara maju yang merupakan pembuang emisi karbon fosil terbesar dunia, juga biang kerok pemanasan global dan perubahan iklim bumi, akan merasa tak lagi punya dosa karena telah menebusnya dengan “membeli” hutan-hutan yang ada, termasuk hutan Indonesia.

Oleh karena itu, Walhi mengingatkan pemerintah agar tak tertarik dengan REDD tersebut. Apalagi, REDD akan menempatkan pemerintah sebagai “satpam” yang akan mengawasi rakyatnya sendiri demi kepentingan negara-negara maju yang tidak serius mencegah perubahan iklim untuk mengurangi emisi karbon fosilnya.

“Ini justru akan menimbulkan konflik sosial yang sangat rawan bagi urusan dalam negeri Indonesia. Bisa jadi, masyarakat Indonesia, terutama yang hidup di sekitar hutan, semakin terpinggirkan. Belum lagi jika ternyata dana itu kemudian tidak benar-benar untuk penyelamatan hutan, semakin terpuruklah kita,” kata Chalid dalam diskusi menyambut COP 13 UNFCCC di Bali pada 3-14 Desember 2007.

Anggota Komisi VII DPR RI dari FPAN Tjatur Sapto Edy mengingatkan pemerintah agar tidak hanya tertarik dengan insentif yang ditawarkan REDD, namun harus dikaji secara menyeluruh keuntungan dan kerugian yang akan ditanggung. “Kita harus punya visi sendiri,” katanya.

Hal senada dikemukakan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Saifullah Yusuf. Dikatakannya, sudah saatnya lingkungan menjadi bagian dari politik makro Indonesia yang mesti mendapat perhatian serius seperti halnya persoalan kemiskinan dan pengangguran. “Pemerintah harus ditekan agar bervisi lingkungan,” katanya.

Sementara itu Koordinator Nasional Koalisi Anti Utang (KAU) Kusfiardi menyatakan, Indonesia harus memanfaatkan forum COP 13 UNFCCC untuk memperjuangkan penghapusan hutang yang diwarisi dari rezim lalu yang disebutnya tidak bertanggungjawab.

“Dengan dihapuskannya hutang haram dan hutang tidak sah itu, serta menolak hutang baru, APBN kita akan surplus dan itu bisa kita gunakan untuk memperbaiki kerusakan lingkungan,” katanya.

Dikatakannya, pemanasan global tidak terlepas dari peran lembaga keuangan internasional yang disokong negara-negara industri maju seperti IMF Bank Dunia yang selama puluhan tahun membiayai proyek yang menyebabkan terjadinya deforestasi dan penggunaan energi fosil. Ironisnya, lembaga keuangan internasional itu sekarang berperan menjadi penyelamat lingkungan dengan mendorong inisiatif untuk mengatasi pemanasan global.

Seharusnya, kata dia, inisiatif itu disertai dengan mengakui kesalahan serta memberi skema penghapusan 100 persen utang luar negeri negara dunia ketiga dengan tanpa syarat.pur

Republika Online, 16 Nopember 2007

http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=314109&kat_id=23


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: