Depkeu Tukar SUN Rp105 M

13 06 2007

JAKARTA (SINDO)-Pemerintah hanya menukar seri Surat Utang Negara (SUN) FR0010 senilai Rp105 miliar pada lelang debt switching kemarin. Padahal, jumlah penawaran yang masuk dalam lelang kemarin mencapai Rp1,915 triliun.

Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto mengatakan, rendahnya nilai yang dimenangkan pemerintah karena kondisi pasar sedang tidak stabil. Namun, jumlah tersebut sudah sesuai dengan patokan (benchmark) pemerintah. ”Selain itu market juga belum stabil, masih nervous. Minggu lalu volatilitas cukup besar sebagai dampak di pasar global,” kata dia di Jakarta, kemarin.

Dalam lelang yang diikuti sebanyak 18 dealer utama tersebut, pemerintah membuka penawaran sebanyak 20 seri SUN yang jatuh tempo antara 2008 hingga 2012.Tapi, para peserta lelang tersebut mengajukan penawaran untuk sembilan seri dengan total Rp1,915 triliun. ”Jumlah penawaran yang masuk sebesar Rp 1,915 triliun, sementara nominal yang dimenangkan oleh pemerintah adalah sebesar Rp 105 miliar, jumlah ini memang cukup kecil, dan total Obligasi Negara yang sudah di-debt switch dari Januari 2007 hingga Juni 2007 adalah sekitar Rp 12,8 triliun,” ujar Rahmat. Sebagai obligasi penukar (destination bond) dalam pelelangan kemarin adalah FR0043 yang jatuh tempo 15 Juli 2022. Adapun tingkat imbal hasil (yield) FR0043 adalah 9,613%.

Di sisi lain, Rahmat menjelaskan, hingga 8 Juni 2007 total SUN yang diterbitkan pemerintah mencapai Rp772,089 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari Rp708,851 SUN dalam negeri, serta SUN internasional sebesar USD7 miliar. Sementara, rata-rata perdagangan harian SUN pada pekan pertama Juni 2007 mencapai Rp7,2 triliun per hari dengan 259 transaksi. Jumlah itu lebih tinggi dari rata-rata perdagangan selama 2007 yang mencapai Rp5,8 triliun per hari atau sebanyak 227 transaksi.

Tekanan jual tersebut, menurut Rahmat, berakibat pada kenaikan yield SUN yang cukup signifikan yang mencapai sekitar 21-32 basis poin (bps) dibandingkan minggu sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh peningkatan imbal hasil obligasi US Treasury akibat ekspektasi kenaikan inflasi di Amerika Serikat. ”Kemudian, ekspektasi kenaikan inflasi global akibat meningkatnya pertumbuhan ekonomi global.Lalu,kenaikan tingkat bunga Bank Sentral Eropa (ECB), dan New Zealand (RBNZ), serta meningkatnya ekspektasi kenaikan tingkat bunga global akibat kenaikan borrowing cost berkaitan dengan maraknya aktivitas merger dan akuisisi perusahaan,” ujar Rahmat.

Sedangkan di awal Minggu II Juni 2007, pasar keuangan domestik mengalami rebound (kenaikan), yang ditandai penguatan nilai tukar rupiah, harga SUN,dan kenaikan IHSG dibandingkan posisi akhir Minggu I Juni 2007. Meski demikian, pelaku pasar domestik masih berhati-hati terhadap perkembangan pasar keuangan yang terjadi. Dihubungi terpisah, analis obligasi Trimegah Securities Dian Abdul Hakim mengatakan, rendahnya jumlah SUN yang ditukarkan pemerintah disebabkan ketidakcocokan harga antara yang ditawarkan pemerintah dan yang diminta pelaku pasar.

Hal ini merupakan imbas tekanan jual di pasar obligasi yang terjadi belum lama ini. Di sisi lain,pemerintah akan melakukan lelang obligasi negara Seri FR0043 (reopening) dan FR0045 (reopening) dengan target indikatif sebesar Rp3 triliun pada 19 Juni 2007. Dana hasil lelang tersebut digunakan untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2007 dan untuk menentukan patokan SUN dalam tahun 2022 dan 2037. Seri FR0043 memiliki tingkat bunga tetap sebesar 10,25% dan jatuh tempo pada 15 Juli 2022. Sedangkan seri FR0045 mempunyai tingkat bunga tetap sebesar 9,75% dan jatuh tempo pada 15 Mei 2037.

Di sisi lain, terkait wacana pengajuan penghapusan utang luar negeri, Direktur Eksekutif Econit Advisory Hendri Saparini menilai upaya pemerintah meminta penghapusan utang luar negeri harus didasari paradigma bahwa utang luar negeri adalah beban yang sangat menghambat penciptaan kesejahteraan masyarakat. Paradigma seperti ini akan mendorong pencarian jalan keluar pembebasan utang luar negeri tersebut. ”Tapi, sekarang, utang luar negeri malah tidak dianggap sebagai beban,”tandas Hendri di sela-sela diskusi ”Prospek Penghapusan Utang Luar Negeri” di Jakarta,kemarin. Hendri menjelaskan, untuk mempercepat proses pemulihan kesejahteraan ekonomi masyarakat, pemerintah perlu secepatnya melakukan penghapusan utang luar negeri. (zaenal muttaqin/ aria yudhistira)

Seputar Indonesia, 13 Juni 2007


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: