Bappenas Akui Sulit Negosiasikan Pinjaman Lama

1 02 2007

JAKARTA – Pemerintah masih mungkin menjalin koordinasi bersama dengan beberapa negara dan lembaga donor meski forum Consultative Group for Indonesia (CGI) sudah dibubarkan. Tetapi, koordinasi itu dilakukan untuk meningkatkan efektivitas utang yang dikucurkan.

Hal itu disampaikan Deputi Pendanaan Pembangunan Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo usai menghadiri acara pelantikan pejabat eselon I Bappenas di Jakarta kemarin. “Kita ingin mereka koordinasi, dan tentunya kita tetap koordinasi secara bilateral. Mungkin pada waktu tertentu perlu ada forum koordinasi antara kita dengan mereka secara bersama,” kata Lukita. Menurut dia, prinsipnya Indonesia akan menyelaraskan program dan tawaran utang. Termasuk, memresentasikan blue book (rencana utang) yang disusun. “Blue book itu kan program pembangunan kita, mengacu pada RPJMN. Kita dari Bappenas akan koordinasi dengan Menkeu, Menko Perekonomian, dan juga Deplu. Selanjutnya, kita koordinasi dengan donor,” tuturnya.

Men PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta menegaskan bahwa kreditor harus mengikuti pola yang diinginkan pemerintah. “Utang baru kita batasi. Yang sulit adalah menegosiasikan utang lama dan yang sedang berjalan. Utang lama itu memakai term bersama, yaitu persyaratan yang mereka tetapkan dalam CGI,” katanya. Meski negosiasi dilakukan secara bilateral, pemerintah harus mencari argumentasi agar term dan kondisi yang diberikan bisa memberi keringanan. “Paling tidak, terkait suku bunga, dan batas waktu pembayaran. Ini yang berat mengurus dan menegosiasikan utang lama dan
yang sedang berjalan,” tutur mantan Ketua Komisi XI DPR RI tersebut.

Dia menyebut, meski sudah merencanakan sejumlah utang jangka menengah, pemerintah tetap akan berupaya menekan jumlah utang luar negeri (LN) baru. “Sedangkan komitmen utang lama akan terus dinegosiasikan, terutama terkait pembayaran setiap tahun dalam APBN,” ujarnya. Sebelumnya, pemerintah memastikan rencana utang baru USD 40 miliar selama 2006-2009 tetap dinegosiasikan dengan kreditor secara bilateral.

Tetapi, pemerintah akan memprioritaskan utang lunak. Saat ini RI masih memiliki utang USD 24,816 miliar kepada Jepang. Lalu, utang ke Bank Pembangunan Asia (ADB) USD 10,177 miliar, Bank Dunia USD 7,463 miliar, dan AS USD 3,979 miliar. Selain itu, utang ke Jerman USD 3,450 miliar, Prancis USD 1,313 miliar, Inggris USD 2,194 miliar, dan lainnya USD 7,986 miliar. Saat ini posisi utang Indonesia mencapai USD 61,3 miliar. Dari jumlah itu, USD 10 miliar di antaranya merupakan utang on-going atau yang proyeknya sedang berjalan.

Jawapos, 01 Februari 2007


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: