Pengamat: Pembubaran CGI Sangat Tepat

24 01 2007

Jakarta- Kalangan pengamat ekonomi menilai pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengakhiri format forum CGI pada tahun 2007 adalah pernyataan yang tepat dan memperkuat posisi tawar Indonesia di mata negara lain. “CGI itu merupakan satu kelompok, lebih bagus kita membina hubungan bilateral.

Kalau dengan bilateral akan memberikan keuntungan bagi Indonesia, sebab kepentingan masing-masing negara anggota itu berlainan,” kata pengamat ekonomi INDEF, Aviliani, di sela diskusi ekonomi politik yang di gelar salah satu parpol di Jakarta, Rabu (24/1). Ia mengungkapkan sudah saatnya CGI dibubarkan karena forum itu membuat Indonesia seolah-olah tidak memiliki posisi tawar (“bargaining position”) di mata Amerika Serikat. Dengan konsep kerjasama bilateral, lanjutnya, Indonesia lebih memiliki nilai tawar yang kuat karena hanya berhadapan dengan satu per satu negara, bukan dengan banyak negara seperti dalam suatu forum CGI.

“Saya rasa sudah saatnya CGI dibubarkan karena kepentingannya multinasional. Kalau dalam bentuk bilateral jauh lebih bagus karena itu nanti bisa mengarah misalnya pada hubungan perdagangan atau industri,” ujarnya. Dalam bentuk kerjasama bilateral, Aviliani mengibaratkan sebagaimana seseorang berinvestasi dalam bentuk portofolio. “Ibaratnya kalau kita berinvestasi portofolionya akan menjadi lebih banyak sehingga memperkuat ‘bargaining position’ kita,” tambahnya. Sementara soal kemungkinan pembubaran CGI akan mempersulit Indonesia mendapatkan bantuan dana dari luar negeri, Aviliani membantah hal itu. “Saya rasa tidak akan kesulitan.

Sangat banyak yang ingin masuk ke Indonesia. Hanya persoalannya adalah payung hukumnya yang masih menjadi pertanyaan besar bagi sejumlah lembaga donor,” ujarnya. Sementara itu pengamat ekonomi Richard Claporth menyatakan mendukung pernyataan Presiden SBY bahwa tidak perlu ada CGI lagi bagi Indonesia.

“Coba dulu jalan sendiri, jangan terlalu bergantung pada lembaga donor,” kata Richard yang juga salah satu Komisaris Bank Mandiri ini. Menurut Richard, Indoensia tidak perlu khawatir akan kesulitan mendapat dana pinjaman bila CGI dibubarkan. Menurutnya, Indonesia masih memiliki cadangan dana sebesar 40 miliar dolar AS yang itu bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya daripada harus berhutang kembali.

Jangan hanya retorika

Sementara itu sejumlah LSM yang tergabung dalam Koalisi Anti Utang (KAU) menyatakan mendukung sepenuhnya langkah Presiden. Mereka berharap hal itu tak hanya sebatas retorika Presiden saja. “Asalkan Presiden jangan hanya bicara saja, ucapan itu harus segera direalisasikan,” ujar Koordinator Nasional Koalisi Anti Utang (KAU) Kusfiardi. Kusfiardi mengungkapkan bila Presiden SBY serius dan bersungguh-sungguh dengan pernyataan tersebut, maka segera saja pemerintah Indonesia segera membuat pernyataan tertulis pada CGI untuk segera dibubarkan.

“Kalau memang serius Presiden tinggal minta Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk segera menyurati Bank Dunia selaku koordinator CGI agar lembaga itu dibubarkan,” katanya. Ia menyarankan pemerintah tak lagi bergantung pada utang luar negeri dalam pembangunan. Anggaran untuk itu, lanjutnya, dapat didukung ari sektor penerimaan pajak dan penerimaan dari sumber daya alam. “Saya pikir kita jangan lagi terjebak pada pemikiran bahwa kita harus mendapat utang baru.

Tapi bagaimana penerimaan dalam negeri di tingkatkan sehingga kita tak lagi tergantung pada utang luar negeri,” katanya. CGI merupakan konsorsium negara-negara dan lembaga-lembaga kreditor dan donor untuk Indonesia yang dibentuk pada tahun 1992 sebagai pengganti konsorsium yang sama yaitu IGGI (Inter-Governmental Group on Indonesia). CGI terdiri dari sekitar 30 kreditor bilateral dan multilateral diantaranya World Bank (WB), Asian Development Bank (ADB), International Monetary Fund (IMF), dan pemerintahan-negara industri seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Inggris.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganggap forum CGI tidak perlu lagi. “Saya pandang perlu untuk mengakhiri format forum CGI tahun 2007 ini CGI saya nyatakan tidak perlu ada lagi,” kata Presiden. Kebijakan itu diambil karena Indonesia sudah bisa mengatasi problema utang luar negerinya tanpa keterlibatan forum CGI.

Republika, 24 Januari 2007


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: